Diperkirakan Jakarta akan macet total,
sedangkan saat ini pertumbuhan jalan di Jakarta kurang dari 1 persen per tahun
dan setiap hari setidaknya ada 1000 lebih kendaraan bermotor baru turun ke
jalan di Jakarta (Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta). Studi Japan
International Corporation Agency (JICA) 2004 menyatakan bahwa bila tidak
dilakukan perbaikan pada sistem transportasi, diperkirakan lalu lintas
Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master
Plan (SITRAMP II)
Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukan bahwa bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun.
Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukan bahwa bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun.
Maka dari itu pemerintah DKI dan pemerintah
pusat ingin mengatasi masalah macet tersebut dengan membangun alat transportasi
massal yang baru seperti MRT (Mass Rapid Transit). Apa itu MRT?
MRT adalah angkutan
yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara cepat. Beberapa bentuk
dari MRT antara lain:
· Berdasarkan
jenis fisik : BRT (Bus Rapid Transit), Light Rail Transit (LRT)
yaitu kereta api rel listrik, yang dioperasikan menggunakan kereta (gerbong)
pendek seperti monorel dan Heavy Rail Transit yang memiliki kapasitas besar
seperti kereta Jabodetabek yang ada saat ini
· Berdasarkan
Area Pelayanan : Metro yaitu heavy rail transit dalam kota dan Commuter Rail
yang merupakan jenis MRT untuk mengangkut penumpang dari daerah pinggir kota ke
dalam kota dan mengantarkannya kembali ke daerah penyangga (sub-urban). Jenis yang akan dibangun oleh PT MRT Jakarta adalah MRT berbasis rel jenis
Heavy Rail Transit.
Dengan adanya
MRT maka manfaat langsung yang akan diperoleh dari alat transportasi ini adalah
mampu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan, karena dengan adanya MRT
diharapkan dapat mengalihkan masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke
transportasi massal.
Selain
itu, MRT juga memberikan kontribusi dalam meningkatan kapasitas transportasi
publik. Kapasitas angkut MRT (Lebak Bulus ke Bundaran HI) diharapkan mencapai
sekitar 412 ribu penumpang per hari (tahun ketiga operasi dengan TOD dan TDM).
Pembangunan
MRT Jakarta juga diharapkan mampu memberi dampak positif lainnya bagi Jakarta dan
warganya antara lain:
· Penciptaan
lapangan kerja: selama periode konstruksi, proyek MRT Jakarta diharapkan dapat
menciptakan sekitar 48.000 pekerjaan baru
· Penurunan
waktu tempuh & meningkatkan mobilitas: Waktu tempuh antara Lebak Bulus
sampai Bundaran HI diharapkan turun dari 1-2 jam pada jam-jam sibuk menjadi 30
menit, sedangkan dari Lebak Bulus sampai Kampung Bandan target waktu tempuh
sekitar 52.5 menit. Penurunan waktu tempuh ini akan meningkatkan mobilitas
warga Jakarta. Meningkatnya mobilitas warga kota ini memberikan dampak
kepada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi kota, dan meningkatkan kualitas
hidup warga kota
Tidak ada komentar:
Posting Komentar